Umum 18 Maret 2026

FKDC Dorong Replikasi Desa Inklusi melalui Peningkatan Kapasitas Forum

FKDC Dorong Replikasi Desa Inklusi melalui Peningkatan Kapasitas Forum

Cirebon, 18 April 2026 — Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC) sebagai mitra SIGAB Indonesia, dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Keuangan Australia–Indonesia melalui Program INKLUSI dan implementasi melalui Program SOLIDER, menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Forum di Sekretariat Kelompok Difabel Desa Tuk Karangsuwung.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai perwakilan komunitas, di antaranya Omah Cirebon Inklusi (OCI), Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL), Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Perhimpunan mandiri kusta Jawa Barat (Permata), Waliku (Warga Peduli Kusta), Kelompok Inklusi Desa Kendal, Kelompok Difabel Desa Tuk karangsuwung, KDD Sindangkempeng, KDD Nanggela, serta perwakilan difabel dari Mulyasari dan Kalisari.

Kegiatan peningkatan kapasitas ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran komunitas dalam mendorong pembangunan yang inklusif. Melalui ruang belajar bersama, para peserta saling bertukar pengetahuan dan pengalaman guna memperkuat praktik-praktik baik di tingkat desa.

Sekretaris Dinas Sosial, Ibu Lili, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa penguatan kapasitas komunitas menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif. “Peran komunitas sangat penting dalam memastikan tidak ada yang tertinggal. Kegiatan seperti ini menjadi ruang kolaborasi yang strategis untuk mendorong desa yang lebih inklusif,” ujarnya.

Sementara itu, Abdul Mujib Ketua dari FKDC menegaskan pentingnya keberlanjutan dari kegiatan ini. “Peningkatan kapasitas forum ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari gerakan bersama. Setiap komunitas telah menyusun rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan secara serentak di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat replikasi desa inklusi, sehingga semakin banyak desa yang mampu menciptakan ruang yang setara, ramah, dan aksesibel bagi semua.

Selanjutnya Membangun Desa Inklusif sebagai Wujud Nilai Kemanusiaan dan Keimanan